Surabaya, 23 Mei 2026 — Mitra Dai Nusantara menggelar kajian kewirausahaan digitalpreneur bagi mahasiswa Kader Dai Pelosok Negeri dengan tema “Membangun Kemandirian Kader melalui Digitalpreneur”. Kegiatan ini berlangsung pada Ahad pagi setelah salat Subuh di Masjid Darul Indonesia, Surabaya, dengan suasana lancar, khidmat, dan penuh keberkahan.
Kajian kewirausahaan ini menjadi salah satu upaya Mitra Dai Nusantara dalam membekali para mahasiswa kader dai agar tidak hanya memiliki kemampuan dakwah dan keilmuan agama, tetapi juga memiliki keterampilan hidup yang relevan dengan perkembangan zaman. Di tengah pesatnya pertumbuhan teknologi digital, para dai dituntut mampu beradaptasi, mandiri, dan kreatif dalam membangun kebermanfaatan di tengah masyarakat.

Pemateri dalam kajian Ahad Subuh tersebut adalah Ustadz Insan Mustofa, S.Pd., salah satu kader dai alumni STAIL yang saat ini aktif sebagai praktisi digitalpreneur sekaligus pengusaha muda. Dalam penyampaiannya, Ustadz Insan memberikan motivasi kepada para kader dai agar mampu melihat peluang dakwah dan kemandirian ekonomi melalui dunia digital.
Menurutnya, digitalpreneur bukan hanya tentang berjualan melalui media sosial atau marketplace, tetapi juga tentang kemampuan membaca peluang, membangun personal branding, menciptakan produk yang bermanfaat, serta menggunakan teknologi sebagai sarana memperluas dakwah dan pelayanan kepada umat.
“Seorang dai di masa sekarang perlu memiliki kemampuan adaptasi. Dakwah tetap menjadi tujuan utama, tetapi kemandirian ekonomi juga penting agar dai dapat lebih kuat, percaya diri, dan luas manfaatnya di masyarakat,” demikian pesan yang disampaikan dalam kajian tersebut.
Para mahasiswa Kader Dai Pelosok Negeri tampak antusias mengikuti kajian. Materi yang disampaikan dinilai sangat relevan dengan kebutuhan mereka, terutama karena para kader nantinya akan diterjunkan ke berbagai daerah untuk menjalankan tugas dakwah dan pengabdian masyarakat. Dengan bekal kewirausahaan digital, para kader diharapkan mampu membangun kemandirian, menciptakan peluang usaha, serta menjadi teladan produktif bagi masyarakat tempat mereka berdakwah.
Sementara itu, Ustadz Alim Puspianto selaku Kepala Pengasuh menyampaikan bahwa kegiatan kajian kewirausahaan ini merupakan bagian penting dari proses pembinaan kader dai. Menurutnya, seorang kader dai perlu memiliki banyak keterampilan pendukung agar lebih siap menghadapi realitas kehidupan masyarakat.
“Melalui kajian kewirausahaan ini, kami berharap skill para kader dai semakin meningkat. Mereka kelak akan terjun langsung ke masyarakat, sehingga tentu membutuhkan bekal yang cukup, bukan hanya dalam bidang dakwah, tetapi juga dalam hal kemandirian, komunikasi, dan kemampuan membaca peluang,” ujarnya.
Ustadz Alim juga menambahkan bahwa tantangan dakwah di pelosok negeri membutuhkan kesiapan mental, spiritual, intelektual, dan keterampilan praktis. Karena itu, pembinaan kader tidak cukup hanya melalui kajian keislaman, tetapi juga perlu diperkuat dengan wawasan kewirausahaan, kepemimpinan, dan penguasaan media digital.
Kegiatan kajian ini diakhiri dengan doa bersama dan harapan agar para mahasiswa Kader Dai Pelosok Negeri dapat menjadi generasi dai yang mandiri, kreatif, berakhlak, dan mampu menghadirkan manfaat luas bagi umat. Mitra Dai Nusantara berkomitmen untuk terus menghadirkan program pembinaan yang relevan, inspiratif, dan berdampak bagi lahirnya dai-dai muda yang siap mengabdi hingga ke pelosok negeri.
Sauara MDN/AJ






