Surabaya, 28 November 2025, Suasana fajar di Masjid Darul Arqam STAI Luqman al Hakim Surabaya terasa berbeda pada pagi ini. Setelah melaksanakan qiyamul lail berjamaah, para kader dai yang mengikuti Program Beasiswa Kader Dai Pelosok Negeri melanjutkan kegiatan dengan tausiyah subuh bersama Ustadz Imam Nawawi, Kepala Departemen Rekrutmen DPP Hidayatullah, sekaligus salah satu dai penugasan Kader Dai Nusantara yang kini berdakwah di Jakarta.
Kegiatan yang berlangsung penuh kekhidmatan itu menjadi momen penting dalam menguatkan ruhiyah dan semangat juang para kader dai. Ustadz Imam hadir bukan sekadar menyampaikan tausiyah, tetapi juga menghadirkan pengalaman lapangan yang sarat inspirasi selama bertahun-tahun berkecimpung dalam dakwah pelosok negeri.

Dalam tausiyahnya, Ust Imam membuka dengan sebuah renungan mendalam yang ia dapatkan dari buku yang sedang ia baca dalam perjalanan dari Jakarta ke Surabaya. Buku tersebut berjudul Inovasi Killer, yang menurutnya berisi berbagai pemikiran inkluitif yang sering kali tidak disadari menahan seseorang untuk berkembang.
“Pemikiran yang bersifat inkluitif itu sering kali mengendalikan manusia tanpa ia sadari. Sementara pemikiran rasional adalah pelayan setia, dia bekerja sesuai apa yang kita arahkan,” ujar beliau di hadapan para kader.
Dari kutipan tersebut, beliau mengajak para mahasiswa untuk kembali bertanya kepada diri masing-masing: Sudah sampai manakah kita gunakan usia kita? Untuk apa hidup kita diarahkan? Menurutnya, pertanyaan semacam inilah yang menjaga seseorang tetap berada di jalur perjuangan dan tidak mudah terjebak pada aktivitas yang tidak bermanfaat.

Salah satu bagian paling menarik dalam penyampaian beliau adalah kisah dakwahnya di lapangan, khususnya saat bertugas di Papua Selatan pada tahun 2017. Ust Imam menceritakan bahwa ia pernah menempuh perjalanan panjang dari Merauke menuju Distrik Muting, wilayah pedalaman Papua Selatan yang jaraknya mencapai 500 kilometer.
Perjalanan tersebut dilakukan dengan kendaraan roda dua, ditemani para dai lainnya. Mereka berangkat dari Timika pukul 09.00 pagi dan baru tiba di lokasi dakwah sekitar pukul 12.00 malam sekitar 12 jam perjalanan melintasi hutan tanpa permukiman dan tanpa akses bahan bakar.
“Sebelum berangkat, kami berenam mempersiapkan segala hal yang mungkin terjadi di perjalanan,” tuturnya.
Mereka membawa alat tambal ban, dua jerigen bensin di kanan dan kiri, serta cadangan rantai, ban luar, dan ban dalam. Semua itu diperlukan karena perjalanan menuju Muting melewati hutan belantara yang sama sekali tidak memiliki penjual bensin maupun tempat perbaikan kendaraan.Di akhir tausiyah, Ust Imam Nawawi memberikan pesan mendalam kepada para kader dai yang saat ini menempuh pendidikan di Surabaya.
“Hari ini, yang akan memegang kepemimpinan bangsa dan umat ke depan adalah anak-anak seusia Anda. Suka atau tidak suka, masa depan itu ada di tangan kalian,” tegasnya.
Beliau menekankan bahwa peran kader dai tidak hanya sebatas berdakwah di mimbar, tetapi juga harus mampu menjadi generasi yang siap mengisi ruang-ruang kepemimpinan. Namun, ada satu masalah besar yang beliau garis bawahi:
“Jika Anda hanya ingin menjadi orang yang terdidik tanpa kesiapan mental dan karakter, maka bisa jadi Anda justru tidak akan memegang kepemimpinan”.
Karena itu, beliau mengajak seluruh kader untuk menumbuhkan kesungguhan, daya juang, kesiapan mental, dan keikhlasan. Pendidikan hanyalah pintu awal; yang jauh lebih penting adalah karakter dan tanggung jawab untuk membawa amanah umat.






