Sebagai upaya mempersiapkan kader dai yang tangguh dan siap terjun langsung ke tengah masyarakat, para mahasantri Program Kader Dai Pelosok Negeri mengikuti pembekalan tugas dakwah melalui kegiatan Safari Dakwah. Program ini merupakan bagian dari “latihan berdakwah” yang dirancang untuk melatih kemampuan praktik dakwah para santri sebelum nantinya benar-benar diamanahi tugas dakwah ke berbagai daerah di seluruh Indonesia. Program Kader Dai Pelosok Negeri sendiri merupakan salah satu program unggulan yang mendapat dukungan penuh dari Mitra Dai Nusantara (MDN).
Melalui program ini, para kader dai tidak hanya dibekali secara teori, tetapi juga diterjunkan langsung ke masyarakat agar mampu memberikan kontribusi nyata, khususnya dalam bidang sosial dan keagamaan. Safari Dakwah menjadi sarana pembentukan karakter, penguatan mental, serta pengasahan kemampuan komunikasi dan kepemimpinan dakwah para santri.
Pada Safari Dakwah kali ini, sebanyak enam mahasantri Program Kader Dai Pelosok Negeri mendapatkan amanah untuk melaksanakan tugas dakwah di dua wilayah, yaitu di lereng Gunung Merbabu tepatnya Desa Gejayan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, serta di Siloliman, Mojokerto. Penugasan ini menjadi pengalaman berharga bagi para santri dalam mengenal langsung kondisi sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat pedesaan.
Kegiatan Safari Dakwah merupakan agenda rutin tahunan yang dilaksanakan oleh santri Program Kader Dai Pelosok Negeri. Untuk tahun ini, Safari Dakwah berlangsung selama 26 hari, dimulai pada 20 Desember 2025 hingga 10 Februari 2026. Selama masa penugasan, para mahasantri melaksanakan berbagai aktivitas dakwah dan sosial, seperti mengajar mengaji anak-anak dan orang dewasa, kerja bakti bersama warga, silaturahim dengan tokoh masyarakat, tebar Al-Qur’an, hingga menghidupkan kembali kegiatan keagamaan di masjid dan TPA.
Selama berada di Desa Gejayan, para santri tinggal di rumah Pak Sutarjo, yang juga merupakan imam Masjid Jami’ Desa Gejayan, Masjid Al Islam. Kehadiran para santri disambut dengan hangat oleh beliau dan masyarakat setempat. Pak Sutarjo mengungkapkan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran para santri yang dinilai sangat membantu aktivitas masjid dan kehidupan keagamaan warga.
“Alhamdulillah kami menyambut baik dan bahagia bisa kedatangan para santri ini. Kehadiran mereka sangat terasa dampaknya, mulai dari membantu mengurusi masjid, kerja bakti, hingga kegiatan keagamaan lainnya. Yang paling terasa, TPA-TPA yang sebelumnya mati suri kini bisa hidup kembali,” ujar Pak Sutarjo.
Selain mengajarkan membaca Al-Qur’an di TPA, para santri juga menyampaikan kisah-kisah Islami yang inspiratif agar suasana belajar menjadi lebih menyenangkan dan tidak membosankan. Sementara itu, untuk kalangan orang dewasa, para santri turut mengisi kajian dan tausiyah tentang dasar-dasar keislaman.
Bagus dan Haidar, dua santri yang mengikuti Safari Dakwah ini, mengungkapkan rasa syukur atas pengalaman berharga yang mereka dapatkan. Menurut keduanya, kesempatan bersilaturahim langsung dengan masyarakat dan mengamalkan ilmu yang telah dipelajari menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
“Alhamdulillah kami mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Bisa bersilaturahim, mengajar, dan berbagi dengan masyarakat secara langsung. Semoga pengalaman ini menjadi bekal berharga ketika kelak kami ditugaskan berdakwah ke seluruh pelosok negeri,” tegas mereka.
Melalui program Safari Dakwah ini, Mitra Dai Nusantara berharap para kader dai semakin siap secara mental, spiritual, dan sosial untuk mengemban amanah dakwah di berbagai wilayah Indonesia, sekaligus menjadi agen perubahan yang membawa cahaya Islam ke pelosok negeri.






