Berita

MDN DAN MASJID AISYAH SURABAYA KOLABORASI BERSAMA MAHASISWA UINSA GELAR KAJIAN HADIS SPESIAL RAMADHAN DAN BUKA PUASA BERSAMA

Surabaya 11 Maret 2026  – Semarak kegiatan dakwah di bulan suci Ramadhan kembali terasa melalui kolaborasi antara Mitra Dai Nusantara MDN, pengurus Masjid Aisyah Surabaya, serta mahasiswa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya UINSA. Kolaborasi tersebut diwujudkan melalui kegiatan Kajian Spesial Ramadhan yang mengangkat tema “Bagaimana Otoritas Hadis Dapat Terjaga: Studi Transformasi Transmisi Hadis dari Era Nabi hingga Era Kontemporer.”

Kegiatan yang berlangsung pada pukul 16.00 WIB setelah waktu Zuhur ini dilaksanakan di Masjid Aisyah Surabaya dan diikuti oleh para mahasiswa, aktivis dakwah, serta masyarakat umum yang antusias mengikuti kajian ilmiah keislaman tersebut. Selain kajian hadis, kegiatan juga dirangkaikan dengan buka puasa bersama bukber sebagai bentuk penguatan ukhuwah Islamiyah di antara peserta yang hadir.

Kajian menghadirkan Muhammad Fatta sebagai narasumber utama. Turut hadir pula sejumlah tokoh dakwah, di antaranya Abdul Hanafi, M.I.Kom selaku Direktur Mitra Dai Nusantara serta Aden selaku Ketua Pemuda Hidayatullah Jawa Timur.

Dalam sambutannya, Direktur Mitra Dai Nusantara, Abdul Hanafi, menyampaikan bahwa kegiatan kajian hadis seperti ini menjadi bagian dari upaya memperkuat literasi keilmuan Islam di kalangan mahasiswa dan masyarakat.

Menurutnya, hadis sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an harus dipahami secara ilmiah dengan pendekatan keilmuan yang benar. “Melalui kajian seperti ini, kami ingin mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa, untuk memahami bagaimana proses transmisi hadis sejak masa Rasulullah hingga masa sekarang. Dengan begitu, umat Islam memiliki keyakinan bahwa hadis yang sampai kepada kita telah melalui proses ilmiah yang sangat ketat,” ujar Abdul Hanafi.

Ia juga menambahkan bahwa kolaborasi antara lembaga dakwah, masjid, dan mahasiswa merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem dakwah berbasis ilmu pengetahuan. “Sinergi antara MDN, masjid, dan mahasiswa merupakan bentuk nyata penguatan dakwah intelektual. Masjid tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pengembangan ilmu dan peradaban Islam,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muhammad Fatta menjelaskan bahwa hadis merupakan salah satu fondasi penting dalam memahami ajaran Islam secara utuh. Oleh karena itu, para ulama sejak generasi sahabat telah berupaya menjaga keaslian hadis melalui berbagai metode ilmiah. Ia menjelaskan bahwa proses transmisi hadis tidak terjadi secara sembarangan, melainkan melalui rantai periwayatan sanad yang ketat dan dapat dipertanggungjawabkan.

“Sejak masa Rasulullah ﷺ hingga generasi setelahnya, para ulama telah mengembangkan sistem verifikasi yang sangat ketat terhadap hadis. Mereka meneliti sanad, kejujuran perawi, hingga kualitas matan hadis,” jelasnya.

Menurutnya, metode ilmiah yang digunakan dalam ilmu hadis bahkan telah menjadi salah satu kontribusi besar peradaban Islam dalam dunia keilmuan. “Ilmu hadis merupakan salah satu disiplin ilmu yang paling sistematis dalam sejarah peradaban manusia. Para ulama tidak hanya menghafal hadis, tetapi juga meneliti secara mendalam siapa yang meriwayatkannya dan bagaimana kualitas periwayat tersebut,” tambahnya.

Dalam pemaparannya, Ustadz Muhammad Fatta menjelaskan bahwa hadis memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an yang berfungsi menjelaskan, merinci, serta memperkuat ajaran yang terdapat di dalam Al-Qur’an. Ia menerangkan bahwa sejak masa Rasulullah SAW, proses penyampaian hadis telah berlangsung melalui majelis-majelis ilmu dan interaksi langsung antara Nabi dan para sahabat. Para sahabat kemudian berperan besar dalam menjaga dan meriwayatkan hadis dengan penuh kehati-hatian sebelum akhirnya dilanjutkan oleh generasi tabi’in yang mulai melakukan proses pengumpulan dan penulisan hadis secara lebih sistematis. Seiring perkembangan zaman, para ulama mengembangkan berbagai disiplin ilmu untuk memastikan keaslian hadis, seperti ilmu sanad, ilmu rijalul hadis, ilmu jarh wa ta’dil, serta ilmu musthalah hadis. Melalui metodologi ilmiah tersebut, hadis kemudian dihimpun dalam berbagai kitab hadis oleh para ulama besar sehingga dapat dipelajari hingga masa kini.

Ustadz Muhammad Fatta menegaskan bahwa kajian hadis tetap relevan hingga era kontemporer karena menjadi salah satu fondasi penting dalam menjaga kemurnian ajaran Islam. “Sejak masa Rasulullah hingga generasi para ulama setelahnya, hadis dijaga melalui proses ilmiah yang sangat ketat. Para ulama tidak hanya menghafal hadis, tetapi juga meneliti sanadnya, menilai integritas para perawi, serta memastikan keabsahan matannya. Inilah yang membuat hadis tetap terjaga otoritasnya hingga hari ini,” ujar Ustadz Muhammad Fatta.

Kajian ilmiah ini diikuti dengan penuh antusias oleh para mahasiswa dan jamaah yang hadir. Para peserta terlihat aktif menyimak pemaparan materi serta mengajukan berbagai pertanyaan terkait metodologi periwayatan hadis dan tantangan pemahaman hadis di era modern.

Salah satu peserta akhy soumory mahasiswa STAIL mengungkapkan bahwa kajian tersebut memberikan wawasan baru mengenai sejarah dan metodologi keilmuan hadis. “Kajian ini sangat membuka wawasan kami tentang bagaimana para ulama menjaga kemurnian hadis. Ternyata prosesnya sangat panjang dan ilmiah,” ujar salah satu mahasiswa peserta kajian.

Setelah sesi kajian selesai, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti oleh seluruh peserta. Momentum tersebut menjadi sarana mempererat silaturahmi antara mahasiswa, tokoh dakwah, dan masyarakat.

Ketua Pemuda Hidayatullah Jawa Timur, Ustadz Aden, menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini penting untuk terus digalakkan, khususnya di bulan Ramadhan. “Ramadhan adalah momentum terbaik untuk menghidupkan tradisi keilmuan di masjid. Dengan kajian seperti ini, kita tidak hanya beribadah secara ritual, tetapi juga meningkatkan pemahaman keislaman,” ujarnya.

Di akhir kegiatan, Direktur Mitra Dai Nusantara, Abdul Hanafi, M.I.Kom, menyampaikan harapannya agar kolaborasi antara Mitra Dai Nusantara, pengurus Masjid Aisyah Surabaya, serta mahasiswa dapat terus berlanjut dalam berbagai program dakwah dan penguatan literasi keislaman di tengah masyarakat. Ia menegaskan bahwa sinergi antara lembaga dakwah, masjid, dan kalangan akademisi merupakan langkah strategis dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang kuat, khususnya di kalangan generasi muda.

“Kami berharap kegiatan kolaboratif seperti ini tidak berhenti pada momentum Ramadhan saja, tetapi dapat terus berlanjut dalam berbagai program dakwah dan kajian keilmuan Islam. Masjid harus terus dihidupkan sebagai pusat pembelajaran umat, tempat bertemunya para dai, mahasiswa, dan masyarakat untuk memperdalam pemahaman terhadap ajaran Islam,” ujar Abdul Hanafi.

Mari kita dukung program Mitra Dai Nusantara

Silahkan berdonasi langsung ke BNI : 611 1442 022, Muamalat: 702 0040 540
A.n. Mitra Dai Nusantara

Bagikan tulisan ini!

Ajak keluarga, saudara, dan kawan untuk mendapatkan inspirasi

Tinggalkan komentar