Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman al-Hakim (STAIL) Surabaya, mengadakan pembekalan kader dai dan Dauroh Marhalah Wustho untuk mahasiswa semester VII dan VIII, program Kuliah Berkarya (Karya), program Kuliah Dai, program Kuliah MQL.
turut hadir dalam pembukaan itu, seluruh mahasiswa semester tujuh dan akhir, mahasiswa Surabaya, para dosen, ketua STAIL, Ketua dan para wakilnya, serta ketua pengurus Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya ustadz. Syamsuddin, SE, MM, Ketua Mitra Dai Nusantara, dan ketua bidang pengkaderan Hidayatullah Pusat, ustdz Dr. Shaleh Usman.

Ustadz Moh. Idris, M.Pd.I, selaku ketua STAIL, dalam sambutannya memberikan apresiasi atas pencapaian yang diperoleh oleh mahasiswa. Dengan dinamika yang terjadi secara internal kampus maupun eksternal. Ustadz Idris juga menegaskan pentingnya kegiatan ini sebagai ajang pembentukan kepribadian, penguatan wawasan, dan peningkatan kemampuan dakwah.
“Marhalah Wustho bukan hanya sekadar agenda akademik, tetapi merupakan proses pembekalan ruhiyah, fikriyah, dan harokah agar para kader siap menjadi da’I yang tangguh di tengah umat,” ujarnya.
Dalam kesempatan pembukaan Marhalah Wistho tersebut, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya, Ustadz Syamsuddin, memberikan sambutan dan pesan khusus kepada para kader da’I. Beliau menekankan bahwa seorang kader da’I harus memiliki kesiapan penuh ketika ditugaskan untuk berdakwah ke berbagai penjuru negeri.
“Seorang kader tidak boleh ragu ketika dipanggil untuk berdakwah. Dimanapun ditugaskan, itulah ladang amal dan kesempatan terbaik untuk menunaikan amanah Allah. Kesiapan lahir dan batin menjadi modal utama seorang dai agar dakwahnya diterima masyarakat,” ujar beliau di hadapan para peserta.
Ustadz Syamsudin juga mengingatkan bahwa dakwah adalah jalan perjuangan yang penuh tantangan, sehingga kader harus memiliki keikhlasan, kesabaran, dan keteguhan iman.
Dauroh Marhalah Wustho secara resmi dibuka oleh Ustadz Shaleh Usman, selaku Kepala Bidang Pengkaderan. Dalam sambutannya, beliau memberikan nasihat penting kepada para kader dengan menekankan lima pesan utama.

Pertama, beliau mengingatkan agar para kader da’I senantiasa memperbaiki komunikasi dengan Allah melalui ibadah, doa, dan ketaatan.
“Seorang dai tidak boleh terputus hubungannya dengan Allah, sebab itu adalah sumber kekuatan dan keberkahan dakwah,” tegasnya.
Kedua, beliau menekankan bahaya sifat sombong dalam diri seorang kader. “Jika kita menjadi orang yang sombong, maka iman kita patut dipertanyakan. Sombong akan merusak akhlak dan meruntuhkan wibawa seorang da’I,” ujarnya.
Ketiga, beliau mengingatkan bahwa tugas dan tanggung jawab di lembaga perjuangan ini sangatlah berat. Oleh karena itu, setiap kader harus memiliki kesiapan mental, spiritual, dan kesungguhan dalam menunaikan amanah dakwah.
Melalui pesan-pesan tersebut, Ustadz Sholeh Usman berharap para kader benar-benar menyiapkan diri, baik ruhiyah maupun jasadiyah, agar kelak siap diterjunkan di tengah masyarakat membawa misi dakwah Islam.






