Surabaya — Semangat ibadah para Kader Dai Pelosok Negeri tetap terjaga meski bulan suci Ramadhan telah berlalu. Usai menjalankan tugas dakwah selama satu bulan penuh di berbagai daerah di Indonesia, para kader kembali ke kampus dengan membawa ruhiyah yang kuat, salah satunya dengan menjaga istiqomah dalam melaksanakan sholat tahajud.
Selama Ramadhan, para kader dai disebar ke berbagai pelosok nusantara untuk menjalankan misi dakwah, mulai dari mengisi kajian, menjadi imam sholat, hingga membina masyarakat di daerah-daerah yang minim akses ke pembinaan keislaman. Pengalaman tersebut tidak hanya mengasah kemampuan berdakwah, tetapi juga memperkuat spiritualitas dan kedekatan mereka dengan Allah SWT.
Kepala Kepengasuhan, Alim Puspianto, menyampaikan apresiasi yang tinggi terhadap semangat ibadah para kader dai. Ia menilai bahwa konsistensi dalam menjaga ibadah, khususnya sholat tahajud, merupakan indikator keberhasilan pembinaan selama Ramadhan.
“Alhamdulillah, kami sangat mengapresiasi semangat ibadah para kader dai. Selama bulan Ramadhan mereka telah menjalankan tugas dakwah di berbagai wilayah, dan setelah kembali ke kampus, mereka tetap menjaga kebiasaan baik seperti sholat tahajud. Ini menunjukkan bahwa pembinaan ruhiyah yang dilakukan tidak berhenti hanya di Ramadhan, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan dakwah di lapangan tidaklah ringan. Para kader harus beradaptasi dengan lingkungan baru, menghadapi keterbatasan fasilitas, hingga menyesuaikan diri dengan karakter masyarakat setempat. Namun justru dari situlah mental dan spiritual mereka ditempa menjadi lebih kuat.

Senada dengan hal tersebut, Ketua Mitra Dai Nusantara, Abdul Hanafi, juga memberikan apresiasi atas dedikasi para kader dai. Ia menegaskan bahwa pengalaman dakwah selama Ramadhan menjadi bekal berharga dalam membentuk pribadi dai yang tangguh dan istiqomah.
“Kami sangat mengapresiasi semangat para kader dai selepas menjalankan tugas dakwah Ramadhan selama satu bulan penuh. Ketika mereka ditugaskan di berbagai daerah, tentu tantangan yang dihadapi sangat beragam dan tidak mudah. Namun mereka mampu menjalaninya dengan penuh tanggung jawab,” ungkapnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa kembalinya para kader ke kampus bukan berarti berakhirnya perjuangan dakwah. Justru, mereka kini memasuki fase baru, yakni mengintegrasikan pengalaman lapangan dengan aktivitas akademik serta pembinaan berkelanjutan sebagai mahasiswa kader dai.
Kini, para kader kembali menjalankan rutinitas sebagai mahasiswa, mengikuti perkuliahan, serta aktif dalam kegiatan pembinaan di asrama. Di tengah kesibukan tersebut, mereka tetap berupaya menjaga kualitas ibadah, termasuk bangun di sepertiga malam untuk melaksanakan sholat tahajud.
Istiqomah dalam ibadah pasca Ramadhan menjadi bukti bahwa nilai-nilai yang ditanamkan selama bulan suci tidak hilang begitu saja. Para kader dai membuktikan bahwa Ramadhan bukanlah akhir dari peningkatan ibadah, melainkan titik awal untuk terus menjaga kedekatan dengan Allah SWT.
Dengan semangat yang terus menyala, para Kader Dai Pelosok Negeri diharapkan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat, tidak hanya dalam berdakwah, tetapi juga dalam menjaga konsistensi ibadah. Ke depan, mereka diharapkan terus berkontribusi dalam menyebarkan nilai-nilai Islam ke seluruh penjuru negeri dengan penuh keikhlasan dan keteguhan hati.






