Surabaya, 24 April 2026 — Suasana sejuk menyelimuti sepertiga malam di Masjid Darul Arqam Indonesia. Dalam keheningan yang penuh keberkahan tersebut, para mahasiswa kader dai pelosok negeri tampak bergegas menuju masjid untuk melaksanakan sholat tahajud berjamaah bersama para ustadz. Meski mata masih terasa berat dan ngantuk belum sepenuhnya hilang, hal itu tidak sedikit pun mengurangi semangat mereka untuk tetap istiqomah menegakkan qiyamul lail.
Dengan penuh kekhusyukan, para kader dai berdiri dalam barisan shaf yang rapi. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan imam menggema lembut, menambah kekhidmatan suasana malam. Bagi para kader, momen ini bukan sekadar ibadah rutin, melainkan sarana mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menguatkan mental dan spiritual sebagai bekal dakwah di masa depan.

Ustadz Alim Puspianto selaku kepala asrama menyampaikan bahwa kegiatan sholat qiyamul lail berjamaah merupakan bagian penting dari sistem pembinaan kader dai. “Kegiatan ini menjadi sarana melatih kedisiplinan dan keistiqomahan. Seorang dai tidak hanya dituntut memiliki ilmu, tetapi juga kekuatan iman dan kedekatan dengan Allah. Dari sinilah ruh dakwah itu dibangun,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa para kader dai nantinya akan ditugaskan ke berbagai pelosok negeri dengan beragam tantangan yang tidak ringan. Oleh karena itu, pembiasaan bangun di sepertiga malam menjadi latihan untuk membentuk ketahanan spiritual, kesabaran, serta keikhlasan dalam menjalankan amanah dakwah di tengah masyarakat.
Selepas melaksanakan sholat tahajud, para kader dai tidak langsung beristirahat. Mereka tetap berada di dalam masjid untuk menunggu waktu subuh sambil mengisi waktu dengan menghafalkan Al-Qur’an. Suasana hening dimanfaatkan dengan maksimal untuk ziyadah (menambah hafalan) maupun muroja’ah (mengulang hafalan) yang nantinya akan disetorkan kepada para pembimbing.
Kegiatan ini berlangsung dengan penuh keseriusan. Para kader duduk berkelompok maupun secara individu, melantunkan ayat demi ayat dengan suara pelan namun penuh penghayatan. Interaksi dengan Al-Qur’an di waktu-waktu terbaik ini diyakini mampu memperkuat hafalan sekaligus menenangkan hati.
Setelah adzan subuh berkumandang, para kader dai melaksanakan sholat subuh berjamaah. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dzikir pagi yang dilakukan per halaqoh. Dalam lingkaran kecil tersebut, para kader bersama pembimbing membaca dzikir dan doa-doa ma’tsurat, menambah keberkahan di awal hari sekaligus memperkuat ukhuwah di antara mereka.
Usai dzikir pagi, aktivitas kembali dilanjutkan dengan menghafal Al-Qur’an. Waktu pagi yang masih segar dimanfaatkan untuk memperkuat hafalan, baik dengan menambah ayat baru maupun mengulang hafalan lama. Rutinitas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan para kader dai, yang menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama dalam perjalanan dakwah mereka.
Salah satu kader dai bernama Maulana mengungkapkan bahwa menjaga konsistensi dalam tahajud dan menghafal Al-Qur’an memang membutuhkan perjuangan. Namun, lingkungan yang saling mendukung membuat mereka tetap semangat. “Ketika melihat teman-teman tetap bangun dan berjuang melawan rasa kantuk, itu menjadi motivasi tersendiri bagi kami untuk terus istiqomah,” ujarnya.
Semangat yang terus menyala di setiap sepertiga malam ini menjadi bukti bahwa kader dai pelosok negeri sedang dipersiapkan dengan sungguh-sungguh. Tidak hanya kuat dalam ilmu, tetapi juga kokoh dalam spiritualitas. Dari rutinitas inilah lahir generasi dai yang siap mengabdi, membawa cahaya Al-Qur’an, dan menebarkan dakwah hingga ke penjuru negeri.






