Surabaya, 20 Maret 2026, Mitra Dai Nusantara kembali menggelar aksi sosial melalui penyaluran zakat maal kepada para mualaf di berbagai wilayah Kota Surabaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen lembaga dalam membantu meringankan beban ekonomi sekaligus memberikan pendampingan keagamaan bagi para mualaf yang tengah memperdalam ajaran Islam.
Program penyaluran zakat ini menyasar para mualaf dari beragam latar belakang. Diharapkan, bantuan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi kehidupan mereka. Tidak hanya dalam bentuk materi, Mitra Dai Nusantara juga menghadirkan dukungan moral dan spiritual agar para penerima manfaat dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang dan penuh keyakinan.
Salah satu penerima manfaat adalah Pak Didik, seorang mualaf yang telah memeluk agama Islam sekitar dua tahun terakhir. Perjalanan hidupnya dalam menemukan keyakinan baru tidaklah mudah, namun ia menjalaninya dengan penuh kesungguhan dan keteguhan hati.
Pak Didik berasal dari keluarga yang sejak lahir memeluk agama Kristen. Dalam perjalanan hidupnya, ia menikah dengan seorang perempuan muslim. Namun, pada saat itu sang istri sempat mengikuti keyakinan Pak Didik. Seiring berjalannya waktu dan berbagai dinamika kehidupan yang mereka lalui, keduanya kembali mencari ketenangan batin.
Beberapa bulan terakhir, istri Pak Didik memutuskan untuk kembali memeluk agama Islam. Keputusan tersebut menjadi titik balik penting dalam kehidupan keluarga mereka. Kini, keduanya berkomitmen untuk bersama-sama memperdalam ajaran Islam dan membangun keluarga yang harmonis dalam naungan nilai-nilai keislaman.
Dalam kesehariannya, Pak Didik harus memenuhi kebutuhan keluarga yang cukup besar. Ia memiliki lima orang anak, terdiri dari tiga laki-laki dan dua perempuan. Anak sulungnya saat ini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Dengan jumlah tanggungan yang tidak sedikit, Pak Didik terus berjuang untuk mencukupi kebutuhan pendidikan dan kehidupan sehari-hari keluarganya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, semangat Pak Didik untuk memberikan yang terbaik bagi keluarganya tetap tinggi. Ia juga berusaha menanamkan nilai-nilai keislaman kepada anak-anaknya secara bertahap, seiring dengan proses belajar yang juga ia jalani sebagai seorang mualaf.
Dalam perjalanannya, ia didampingi oleh Mualaf Learning Center (MLC) LDK PD Muhammadiyah Surabaya. Bersama mualaf lainnya ia dan keluarga dibina terkait aqidah dan ibadahnya. Direktur MLC Irfan Zakaria, S.Ag menyampaikan apresiasinya terhadap MDN yang telah peduli terhadap mualaf binaannya.
“Alhamdulillah, terima kasih kami haturkan kepada Lembaga Mitra Dai Nusantara atas titipan Zakat Maal-nya bagi para mualaf di bawah naungan Muallaf Learning Center Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya. Zakat yang diberikan bukan sekadar bantuan materi, melainkan wujud kasih sayang dan dukungan moral bagi mereka yang sedang berjuang memantapkan hati dalam Islam. Semoga setiap rupiah yang disalurkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir bagi para donatur dan pengurus Mitra Dai Nusantara. “Dan apa saja harta yang baik yang kamu infakkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup dan kamu tidak akan dizalimi (dirugikan).” (QS. Al-Baqarah: 272)”. Ujarnya.
Melalui penyaluran zakat maal ini, Mitra Dai Nusantara berharap dapat membantu meringankan beban ekonomi keluarga Pak Didik dan para mualaf lainnya. Bantuan yang diberikan diharapkan mampu menjadi penopang kebutuhan dasar sekaligus menjadi penyemangat untuk terus melangkah menuju kehidupan yang lebih baik.
Ketua Mitra Dai Nusantara, Abdul Hanafi, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari program berkelanjutan yang tidak hanya berfokus pada bantuan ekonomi, tetapi juga pembinaan keagamaan. Para mualaf didampingi agar dapat memahami ajaran Islam secara lebih mendalam dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya aksi sosial ini, diharapkan semakin banyak pihak yang tergerak untuk peduli terhadap para mualaf. Kehadiran zakat tidak hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai sarana mempererat ukhuwah serta menghadirkan harapan baru bagi mereka yang membutuhkan.
Kisah Pak Didik menjadi gambaran nyata bahwa perjalanan menjadi mualaf membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Melalui kepedulian dan kebersamaan, para mualaf dapat merasakan bahwa mereka tidak sendiri, serta memiliki kekuatan untuk membangun masa depan yang lebih baik bersama keluarga.






