Surabaya, 17 Juni 2026 — Yayasan Mitra Dai Nusantara kembali menunaikan amanah kebaikan dari para donatur melalui kegiatan penyaluran zakat maal kepada mualaf di Kota Surabaya. Kegiatan ini menjadi bagian dari komitmen Mitra Dai Nusantara dalam menguatkan peran dakwah dan sosial, khususnya dalam memberikan perhatian kepada saudara-saudara mualaf yang membutuhkan pendampingan, kepedulian, dan dukungan dari sesama muslim.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Mitra Dai Nusantara, Abdul Hanafi, bersama tim melakukan silaturahmi langsung ke kediaman Bapak Tommy Wijaya dan Ibu Asi Lismawati. Keduanya merupakan pasangan mualaf yang saat ini tinggal di Surabaya. Kehadiran tim Mitra Dai Nusantara tidak hanya bertujuan menyalurkan amanah zakat maal dari donatur, tetapi juga untuk menjalin kedekatan, mendengarkan kisah kehidupan, serta memberikan dukungan moral kepada keluarga mualaf tersebut.

Setibanya di kediaman Bapak Tommy, tim Mitra Dai Nusantara disambut dengan hangat. Dalam suasana silaturahmi yang penuh kekeluargaan, Abdul Hanafi memperkenalkan Mitra Dai Nusantara sebagai lembaga yang berada di bawah naungan Pesantren Hidayatullah Surabaya. Ia menjelaskan bahwa MDN bergerak di bidang dakwah dan sosial, dengan salah satu fokus utamanya adalah memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan, termasuk para mualaf.
Pada kesempatan itu, Abdul Hanafi juga memperkenalkan dirinya secara langsung kepada keluarga Bapak Tommy. Ia menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Makassar. Menariknya, Bapak Tommy juga berasal dari daerah yang sama. Kesamaan asal daerah tersebut membuat suasana pertemuan semakin akrab dan penuh kehangatan.
Dalam perbincangan bersama tim MDN, Bapak Tommy menceritakan perjalanan hidupnya. Ia menyampaikan bahwa saat ini dirinya memiliki lima orang anak. Anak bungsunya masih duduk di bangku sekolah dasar, sementara salah satu anaknya telah meninggal dunia. Untuk mencukupi kebutuhan keluarga, Bapak Tommy bekerja sebagai koki di salah satu warung yang berada diwilayah sekitar keputih Surabaya. Sementara itu, istrinya, Ibu Asi Lismawati, bekerja secara serabutan, seperti menerima panggilan menyetrika pakaian dari warga sekitar.
Bapak Tommy dan keluarga telah tinggal di Surabaya selama kurang lebih sebelas tahun. Hingga saat ini, mereka belum memiliki rumah pribadi dan masih menempati rumah milik atasan tempat Bapak Tommy bekerja. Meski demikian, keluarga ini tetap berusaha menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, ikhtiar, dan rasa syukur.
Dalam silaturahmi tersebut, Bapak Tommy juga membagikan kisah perjalanan spiritualnya hingga memeluk Islam. Ia menceritakan bahwa dahulu dirinya memeluk agama Buddha Konghucu. Perjalanan menuju Islam bermula setelah pernikahannya. Meski sempat kembali kepada agama lamanya, hidayah Allah datang melalui berbagai peristiwa yang menyentuh hatinya.
Salah satu momen penting terjadi ketika Bapak Tommy masih berada di Makassar dan menjalankan usaha kuliner. Saat itu, ada seorang warga keturunan Tionghoa yang telah menjadi mualaf. Orang tersebut menasihati istri Bapak Tommy bahwa dalam kehidupan rumah tangga sebaiknya suami dan istri berada dalam keyakinan yang sama. Nasihat tersebut kemudian disampaikan oleh Ibu Asi kepada suaminya.
Awalnya, Bapak Tommy belum tertarik untuk memeluk Islam. Namun, sang istri dengan sabar mengajaknya menghadiri kajian di Masjid Cheng Hoo. Pada pertemuan pertama dan kedua, Bapak Tommy mengaku belum merasa nyaman dengan kajian yang diikutinya. Namun, pada kesempatan berikutnya, justru Bapak Tommy sendiri yang mengajak istrinya untuk kembali mendengarkan kajian di masjid tersebut.
Setelah mengikuti kajian itu, hatinya mulai terbuka. Bapak Tommy menyampaikan kepada istrinya bahwa kajian yang didengarnya sangat baik dan ia mulai memiliki keinginan untuk masuk Islam. Ia pun menemui seorang ustaz di masjid dan menyampaikan niatnya untuk menjadi seorang muslim.
“Ustaz, saya mau masuk Islam. Apakah bisa dibantu?” tutur Bapak Tommy mengenang momen tersebut.
Sang ustaz kemudian menanyakan kesungguhan niatnya dan memastikan bahwa keputusan itu diambil karena Allah serta tanpa paksaan dari siapa pun. Bapak Tommy menjawab bahwa dirinya telah mantap dan yakin bahwa Islam adalah agama yang benar.
Perjalanan setelah memeluk Islam tentu tidak selalu mudah. Setelah merantau ke Surabaya, Bapak Tommy dan keluarga menghadapi berbagai ujian kehidupan. Namun, Ibu Asi Lismawati senantiasa memberikan dukungan dan motivasi agar suaminya tetap istiqamah di jalan kebenaran.

Mendengar kisah perjuangan tersebut, Ketua Mitra Dai Nusantara merasa terharu. Ia menyampaikan bahwa para mualaf seperti Bapak Tommy membutuhkan perhatian, penguatan, dan pendampingan agar semakin kokoh dalam menjalani kehidupan sebagai muslim.
Di akhir silaturahmi, Mitra Dai Nusantara menyalurkan zakat maal dari para donatur kepada keluarga Bapak Tommy. Bantuan tersebut diharapkan dapat meringankan kebutuhan keluarga sekaligus menjadi wujud nyata kepedulian umat Islam kepada saudara seiman.
Bapak Tommy pun menyampaikan rasa terima kasih kepada Mitra Dai Nusantara dan seluruh donatur yang telah peduli terhadap keluarganya.
“Terima kasih banyak kepada Mitra Dai Nusantara dan para donatur atas kepeduliannya kepada kami sebagai mualaf,” ungkap Bapak Tommy.
Donatur Mitra Dai Nusantara atas nama Bapak Amri Husni Hakim menyampaikan rasa terima kasih atas penyaluran zakat maal yang telah dilakukan dengan amanah. Beliau merasa senang dan puas atas laporan MDN yang sangat detail. Menurutnya, hingga saat ini belum menemukan lembaga atau yayasan yang menyajikan laporan sedetail Mitra Dai Nusantara.
Melalui kegiatan ini, Mitra Dai Nusantara berharap penyaluran zakat maal tidak hanya menjadi bantuan materi, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah, menguatkan dakwah, dan menghadirkan kebahagiaan bagi saudara-saudara mualaf yang terus berjuang menjaga keimanannya.






